Retorika Besar: Sejarah Gembar-gembor
Retorika Besar: Sejarah Kata yang Digembar-gemborkan
Sebelum ada banner iklan, kata-kata besar sudah lama dipakai manusia — tetapi tempatnya sangat dijaga. Di pentas wiracarita, bahasa yang muluk hanya untuk tokoh yang memang muluk: dewa, raja, pahlawan yang menyeberangi lautan dalam satu lompatan. Di kakawin dan hikayat, sanjungan disusun berbaris-baris dengan rima, dan penonton tahu persis bahwa ketinggian bahasa itu adalah bagian dari pentas — dunia cerita, bukan dunia belanja.
Lalu panggungnya berganti. Radio membawa suara announcer yang menggelegar ke ruang tamu; televisi menambahkan zoom dramatis dan musik menggelegar; internet memperpendek semuanya menjadi satu baris banner yang harus menang perhatian dalam sedetik. Setiap pindah panggung, taruhannya naik: kata “bagus” kalah oleh “hebat”, “hebat” kalah oleh “luar biasa”, hingga akhirnya semua pihak meminjam “epik” dan “legendaris” dari kamus wiracarita — tanpa membawa ceritanya.
Kenapa Bahasa Besar Selalu Terjual
Retorika besar bekerja karena meminjam rasa hormat. Otak manusia dilatih ribuan tahun untuk mendengarkan nada tinggi: pantun bersajo, seruan dalang, gong pembuka. Nada tinggi membuat kita berhenti dan menoleh — itu fungsinya yang sah. Masalahnya dimulai ketika nada tinggi dipakai bukan untuk mengantar cerita, melainkan untuk menutupi absennya cerita: bonus yang biasa disebut “epik”, layanan yang standar disebut “legendaris”, tombol yang sama disebut “mengubah hidup”.
Yang Hilang Saat Semua Jadi Epik
- Skala — bila semuanya luar biasa, tidak ada lagi yang luar biasa; penggarisnya patah.
- Kesaksian — kata besar membuat klaim tak bisa diperiksa: epik menurut siapa, diukur dengan apa?
- Rasa hormat pembaca — sanjungan berlebihan diam-diam mengatakan bahwa pembaca dianggap tidak akan memeriksa.
Refleks yang perlu dilatih sederhana: setiap bertemu kata besar, tanyakan panggungnya. Kalimat itu berdiri di dunia cerita, atau sedang berdiri di halaman pembayaran? Bila jawabannya halaman pembayaran, turunkan nadanya sendiri — baca ulang sebagai kalimat biasa — lalu periksa apelah isinya masih ada setelah nada tingginya dihapus. Latihan menimbang nilainya ada di inflasi sanjungan, dan anatomi lengkap bahasa berlebihan di kata yang membengkak. Konten di situs ini hanya untuk usia 18 tahun ke atas — bermainlah dengan tanggung jawab.